Bukan Cuma Traveling: Cerita Gen Z Menemukan Diri Lewat Umroh

Photo by AirTeo | Air Travel on Pexels.com

Umroh di Mata Gen Z: Antara Hijrah, Healing, dan Harapan

“Berapa sih sebenarnya biaya umroh untuk anak muda kayak aku?” tanya Rafi, 26 tahun, sambil membuka aplikasi travel di ponselnya.
Ia bukan sedang mencari tiket konser atau promo fashion, tapi harga paket umroh — sesuatu yang dulu tak pernah ia bayangkan akan dicari di usia semuda itu.

Rafi dulu adalah anak nongkrong, aktif di media sosial, dan sering ikut tren viral. Tapi setelah pandemi, hidupnya berubah. Ia merasa kosong meski kariernya sukses, follower banyak, dan hidup terlihat “sempurna”. Sampai akhirnya, sebuah video pendek tentang suasana Makkah muncul di berandanya, membuat matanya berkaca-kaca.

Ketika Panggilan Itu Datang di Tengah Scroll TikTok

“Awalnya cuma scroll video, tapi pas denger adzan di Masjidil Haram, rasanya kayak disapa langsung,” ceritanya pelan.
Sejak malam itu, Rafi mulai banyak membaca tentang makna haji dan umroh. Ia bahkan mulai menabung dari gajinya setiap bulan, memotong pengeluaran untuk hal-hal yang dulu dianggap penting — nongkrong, langganan streaming, atau ngopi di tempat hits.

Generasi Z memang unik. Mereka belajar lewat layar, tapi juga punya rasa spiritual yang mendalam. Umroh bagi mereka bukan sekadar perjalanan ibadah, tapi juga spiritual detox — bentuk healing yang lebih dalam dari sekadar liburan ke Bali atau Jepang.

Umroh Mandiri dan Sentuhan Digital

Berkat kemajuan teknologi, semua bisa dilakukan secara mandiri. Rafi mulai mencari tahu tentang jual visa umroh mandiri, membaca blog, menonton vlog pengalaman jamaah muda, hingga bergabung di komunitas Gen Z Muslim traveler.

“Dulu aku pikir urus visa itu ribet, tapi ternyata sekarang bisa online. Semua transparan dan gampang banget,” ujarnya.

Tak sedikit teman-temannya yang mengikuti langkah Rafi. Mereka membuat grup kecil untuk saling menyemangati menabung, berbagi tips, dan bahkan membuat konten edukatif soal perjalanan spiritual. Bagi Gen Z, berbagi bukan untuk pamer, tapi untuk menebar inspirasi.

Kini, ibadah dan dakwah bisa berjalan beriringan lewat dunia digital — dan mereka melakukannya dengan cara yang keren.

Dari Kamera ke Ka’bah: Momen yang Mengubah Segalanya

Ketika akhirnya kaki Rafi menginjak tanah Makkah, semua rasa yang ia pikir bisa diabadikan dengan kamera, ternyata tak bisa digambarkan dengan kata.
“Begitu lihat Ka’bah, aku langsung nangis. Semua pencapaian duniawi rasanya nggak ada apa-apanya,” katanya sambil tersenyum haru.

Ia bercerita bagaimana setiap langkah tawaf terasa seperti membuka lembaran hidup baru. Semua rasa cemas, sedih, dan kesalahan masa lalu seperti dicuci bersih.

Di sinilah Gen Z menemukan hal yang tak bisa mereka dapatkan di dunia digital: ketenangan yang nyata.

Mereka mungkin lahir di era cepat, tapi di hadapan Ka’bah, semuanya melambat. Tak ada notifikasi, tak ada likes, hanya diri sendiri dan Allah سبحانه وتعالى.

Spirit Baru: Umroh Bukan Lagi untuk “Nanti”

Banyak orang dulu berpikir, umroh itu untuk usia 40 ke atas. Tapi generasi sekarang punya cara berpikir berbeda.
“Mau nunggu tua buat beribadah, kalau ajal datang duluan gimana?” ucap Lala, teman Rafi yang baru pulang umroh bareng.

Bagi mereka, menabung untuk umroh sama pentingnya dengan menabung untuk masa depan. Mereka rela mengurangi gaya hidup konsumtif demi bisa berangkat ke Tanah Suci lebih cepat.

Tren ini terus tumbuh — bahkan beberapa startup travel kini menyesuaikan layanan untuk jamaah muda dengan konsep smart umroh, yang lebih fleksibel, transparan, dan ramah digital.

Ketika Ibadah Menjadi Gaya Hidup

Gen Z tidak melihat ibadah sebagai kewajiban semata, tapi bagian dari identitas diri.
Mereka menciptakan tren baru: berpakaian sederhana tapi stylish di Tanah Suci, membuat journal umroh, hingga mengunggah refleksi spiritual di media sosial.
Umroh kini tak lagi dianggap “kaku” atau “hanya untuk yang mapan”, tapi sesuatu yang bisa dijalani siapa saja, asal punya niat dan usaha.

Dan itu semua dimulai dari kesadaran kecil — dari satu video, satu ajakan teman, atau satu momen refleksi yang mengubah arah hidup mereka.

Dakwah dari Dunia Maya ke Dunia Nyata

Setelah pulang, Rafi merasa kehidupannya jauh lebih tenang. Ia mulai aktif berbagi pengalaman, bahkan membuat konten yang menceritakan perjalanan spiritualnya.
Banyak anak muda lain yang akhirnya ikut terinspirasi dan mulai menabung.

Begitulah kekuatan dakwah digital di tangan Gen Z — sederhana, jujur, dan apa adanya. Mereka tak menggurui, tapi mengajak lewat pengalaman pribadi yang tulus.

Kini, hashtag seperti #UmrohMuda dan #HijrahDigital mulai ramai di berbagai platform. Ibadah bukan lagi hal yang “berjarak”, tapi bagian dari gaya hidup yang bisa diraih siapa pun.

Penutup: Saat Gen Z Menjadi Generasi Hijrah

Generasi Z telah membuktikan bahwa spiritualitas bisa tumbuh di tengah dunia digital yang serba cepat. Mereka tetap bisa keren, tetap aktif, tapi juga punya arah hidup yang lebih bermakna.

Kalau dulu orang berlomba punya gadget terbaru, sekarang semakin banyak yang berlomba menabung untuk menuju Baitullah.

Dan buat kamu yang mulai merasa terpanggil tapi bingung harus mulai dari mana, yuk mulai dengan riset kecil tentang biaya umroh sesuai kemampuanmu. Karena langkah pertama itu bukan di bandara, tapi di niat.

Kalau kamu ingin perjalanan yang lebih fleksibel dan tanpa ribet, kamu juga bisa coba program jual visa umroh mandiri yang kini makin populer di kalangan muda.
Karena bagi Gen Z, ibadah itu bukan soal usia — tapi soal siapa yang lebih dulu berani melangkah menuju Allah سبحانه وتعالى. 

Leave a comment