
Matahari baru saja menyapa ufuk timur, namun Wawan sudah sibuk memanaskan mesin motor tuanya. Di jok belakang, boks pendingin berisi aneka es kopi racikannya siap mengudara. Sejak lulus SMA tiga tahun lalu, gerobak motor inilah saksi bisu perjuangan Wawan. Setiap hari, tujuannya satu: depan pabrik tekstil yang selalu ramai di kala jam istirahat atau pulang kerja. Di sana, di antara deru mesin dan hiruk pikuk pekerja, Wawan menjajakan secangkir harapan.
Bukan sekadar uang jajan atau kebutuhan sehari-hari yang dikejar Wawan. Ada impian yang jauh lebih besar, jauh lebih mulia, yang selalu ia patri dalam hati: menghajikan Ibunda tercinta, Ibu Hayati. Sejak kecil, Wawan melihat kerinduan di mata ibunya setiap kali mendengar lantunan ayat suci atau cerita orang pulang dari Tanah Suci. Sebuah kerinduan yang tak pernah terucapkan dengan kata-kata, namun begitu terasa di setiap helaan napas Ibu Hayati.
“Kopi dingin, Bang! Kopi dingin!” Suara Wawan yang khas selalu berhasil menarik perhatian para pekerja yang lelah. Dengan sigap, tangan Wawan meracik pesanan: es kopi susu gula aren, kopi hitam dingin, atau es cokelat kekinian. Peluh membanjiri dahinya, namun senyum tak pernah luntur. Setiap recehan yang ia terima, setiap lembar uang ribuan yang berpindah tangan, bukan hanya keuntungan, melainkan juga setitik lagi harapan untuk mewujudkan mimpi sang bunda.
Wawan dikenal sebagai pemuda yang gigih dan jujur. Dagangannya laris manis bukan hanya karena rasanya yang enak, tapi juga karena keramahannya. Para pekerja pabrik sudah hapal dengan Wawan si penjual es kopi, yang selalu punya sapaan hangat dan senyum tulus. Dari pagi hingga sore, Wawan tak kenal lelah. Terkadang, sisa dagangan ia jajakan berkeliling kompleks perumahan demi menambah pundi-pundi tabungan.
Setiap malam, sebelum tidur, Wawan selalu membuka kaleng biskuit bekas yang ia gunakan sebagai celengan. Dihitungnya perlahan, lembar demi lembar, koin demi koin. Angka-angka itu adalah representasi dari setiap tetes keringatnya, setiap senyumannya, setiap impian ibunya. Ibu Hayati seringkali bertanya mengapa Wawan begitu rajin menabung, namun Wawan hanya tersenyum dan berkata, “Buat masa depan, Bu.” Ia ingin kejutan ini benar-benar sempurna.
Tiga tahun berlalu. Celengan biskuit itu kini terasa sangat berat. Tibalah hari yang ia nanti. Dengan jantung berdebar, Wawan membawa kaleng penuh itu ke hadapan Ibu Hayati. “Bu, ini… ini untuk Ibu,” ucap Wawan lirih, seraya menyerahkan buku tabungan yang sudah ia siapkan. Ibu Hayati mengerutkan kening, bingung. Ketika Wawan menjelaskan bahwa semua tabungan itu adalah hasil jerih payahnya dari berjualan kopi, khusus untuk biaya haji Ibu, air mata Ibu Hayati langsung tumpah. Ia memeluk Wawan erat, tangisnya pecah. Sebuah impian yang tak pernah berani ia ungkapkan, kini diwujudkan oleh putra semata wayangnya.
Tahun 2025. Langit di atas Bandara Soekarno-Hatta begitu cerah, secerah wajah Ibu Hayati. Dengan balutan pakaian ihram, ia melambaikan tangan kepada Wawan yang berdiri di antara kerumunan pengantar. Senyum lebar tak lepas dari bibirnya. Wawan menyaksikan kepergian ibunya dengan haru campur bangga. Doa-doa terbaik mengalir dari bibirnya, mengiringi setiap langkah sang bunda menuju Baitullah. Haji Ibu Hayati berjalan dengan lancar dan penuh keberkahan. Kabar baik selalu datang melalui panggilan telepon, betapa khusyuknya ia beribadah, betapa indahnya pengalaman di sana.
Sepulang dari Tanah Suci, wajah Ibu Hayati memancarkan aura kedamaian. Ia menjadi lebih sabar, lebih bersyukur, dan aura kebahagiaan tak pernah pudar dari dirinya. Kebahagiaan Ibu adalah kebahagiaan Wawan. Tak lama setelah kepulangan Ibu Hayati, Allah kembali memberikan rezeki yang tak disangka-sangka kepada Wawan. Dagangan es kopinya semakin laris manis, bahkan ia mulai menerima pesanan untuk acara-acara khusus. Rezeki yang berlimpah ini membuat Wawan berpikir, mengapa tidak ia dan ibunya kembali ke Tanah Suci, kali ini untuk umroh bersama?
Wawan segera mencari informasi di internet. Ia ingin memastikan perjalanan umroh mereka berdua juga berjalan lancar dan penuh berkah seperti ibadah haji Ibu. Setelah membandingkan berbagai pilihan, ia menemukan banyak ulasan positif tentang Pusat Umroh. Reputasi mereka yang terpercaya dan Paket Biaya Umroh 2025 – 2026 yang transparan menarik perhatiannya. Wawan yakin, inilah pilihan terbaik.
Di bulan Juli 2025, Wawan dan Ibu Hayati pun berangkat bersama menuju Tanah Suci untuk menunaikan ibadah umroh. Kali ini, Wawan tak lagi hanya sebagai pengantar. Ia juga bisa merasakan langsung kekhusyukan beribadah di sana, bersama ibunda tercinta. Selama perjalanan, pelayanan dari Pusat Umroh benar-benar sempurna. Segala kebutuhan mereka terpenuhi, dari akomodasi, transportasi, hingga bimbingan ibadah. Ibu Hayati dan Wawan bisa beribadah dengan tenang dan nyaman, merasakan kedekatan dengan Sang Pencipta, serta mengulang kembali kenangan indah di tanah para Nabi.
Kisah Wawan adalah bukti nyata bahwa bakti seorang anak, dibarengi dengan kegigihan dan doa, mampu mewujudkan impian terbesar orang tua. Dari secangkir es kopi keliling, ia tak hanya menjual minuman, tapi juga meracik sebuah kisah inspiratif tentang cinta, pengorbanan, dan keyakinan bahwa Allah akan selalu memberkahi setiap niat baik.